MD 307


01 November 2014

White Cane Day


Judul: [MD307] Laporan Kegiatan White Cane Day pada tgl. 15 Oktober 2014 
Dari: Liz oleander23@hotmail.com 
Tanggal: Kamis, 30 Oktober 2014 15:10


Sahabat-sahabat Lions yang budiman,

Tanggal 15 Oktober  adalah Hari Tongkat Putih sedunia atau biasa dikenal dengan sebutan Lions White Cane Day
Pada tanggal tersebut Distrik 307A1 dan Distrik 307B1 menyelenggarakan serangkaian kegiatan di Balai Agung, Balaikota Provinsi DKI Jakarta .

Sebagai Project Officer adalah  Lion Eko Setiowibowo. Host dari kegiatan ini adalah LCIF MD Coordinator PDG Eveline N Chandra. 

Acara tersebut dihadiri  oleh CC Ina Liliana Gunawan bersama dengan Spouse ,Gubernur Distrik 307B1 Noesye Bowo Watjoko, PCC Yoola Z.Noor,IPDG Tony Djumadi, IPDG Harianto Setiadinata, PDG Gin Danny,  VDG1 Yodianto Jaya, VDG1 Noerman Taufik, VDG2 Wang Tjie Hoa,VDG2 Yahya Yastputera, Lion Sylviana Murni, KW Herawati Soekahar, LCIF Distrik Koordinator L Lien Gunawan dan anggota Lion Melsiana serta beberapa fellow Lions. 
Kehadiran Bapak Basuki Tjahaja Purnama pada saat itu menjabat sebagai Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta  menjadikan acara tersebut lebih meriah dan istimewa.

Puncak dari rangkaian kegiatan ini adalah Penyuluhan kepada Dirlantas Polda Metro Jaya yang disampaikan oleh Lion Mimi Rusly penyandang Disabilitas Netra, member LCJJ Sunter Agung dengan tema "Peka Terhadap Penyandang Disabilitas Netra".
Selain itu dalam kesempatan yang sama diserahkan bantuan berupa Laptop, Scanner dan LCD Projector yang diberikan kepada Bpk. Eka, ketua Pertuni Prov. DKI Jakarta. 

Sebagai hiburan, ditampilkan Tari Saman, angklung (semua penyandang disabilitas Netra) serta Drama Singkat tentang reaksi apabila bertemu Disabilitas Netra, yang diperankan oleh Dirlantas, Polisi & Polwan, Satpol PP dan Pramuka serta Pertuni DKI Jakarta. 

Dalam kesempatan ini CC Ina L Gunawan memberikan kata sambutan dan menceritakan sedikit sejarah White Cane atau Tongkat Putih yang diketahui sebagai alat bantu penting bagi penyandang disabilitas netra. 

Sejarah White Cane berawal pada tahun 1921,  seorang fotografer dari Bristol yang bernama James Biggs, yang buta akibat kecelakaan. Dengan keadaannya itu ia merasa tidak nyaman dalam berlalu lintas di sekitar rumahnya. dan ia melukis jalannya dengan warna putih agar lebih mudah terlihat orang lain.  

Tahun 1930, Lion George Bonham, Presiden Peoria Lions Club (Illinois) memperkenalkan ide menggunakan white cane dengan pita merah sebagai sarana untuk membantu orang buta.  Ide ini diterima dengan luar biasa. 

Tahun 1931, di Prancis, Guilly d'Herbemont meluncurkan a national “white stick movement” for blind people dan menyumbangkan 5.000 white cane untuk orang buta di Paris demi keselamatan mereka berlalu lintas. 

Dan akhirnya pd th 1964: Kongres AS menyetujui resolusi otorisasi Presiden AS bahwa 15 Oktober diperingati sebagai "Hari Keselamatan Tongkat Putih Nasional." 

Pada puncaknya th 1969: Blind Internasional Federation mengadopsi 15 Oktober sebagai "Hari Keselamatan Tongkat Putih Internasional." Sehingga White Cane atau Tongkat Putih ini telah diakui di seluruh dunia sebagai simbol kemandirian penyandang disabilitas netra.  Tetapi apakah hanya dengan memberikan sebuah Tongkat Putih kepada seorang penyandang disabilitas netra sudah cukup? Jawabannya tentu Tidak. 

Sesuai dengan Thema peringatan White Cane Day 2014 : “PEKA PENYANDANG DISABILITAS NETRA”.  Kami dari Lions Clubs International MD 307 Indonesia terpanggil untuk ikut membantu, menumbuhkan “kepekaan” terhadap ketidak sempurnaan penglihatan saudara kita, terlebih dengan minimnya aksesibilitas dari masyarakat dan pemerintah terhadap masalah ini. 

Kita semua juga menyadari bahwa Penyandang disabilitas netra mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi hidupnya. Mereka memerlukan bantuan khusus. Maka pada Hari White Cane Day ini, dalam rangka penumbuhan rasa kepekaan dan kepedulian kepada Saudara kita, Lions Clubs International MD 307 mewujudkan karyanya dengan: 

 1. Mengundang Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta, Anggota Pramuka dan Anggota Tanggap Gawat Darurat

 2. Memberikan penyuluhan kepada 100 orang anggota Polisi Lalulintas bagaimana bersikap dan bertindak yang tepat kepada pengguna lalulintas yang kebetulan penyandang disabilitas netra.

 3. Memberikan 10 LapTop, 4 Laptop diberikan kepada mahasiswa tunanetra yang berprestasi dan 5 Scanner kepada 5 Wilayah Pertuni DKI Jakarta. 
Dengan pemberian fasilitas ini penyandang disabilitas netra diharapkan dapat mengembangkan potensi dirinya layaknya orang yang awas. 

4. Memberikan 125 Goody bags berisi Tongkat Putih, Sapu Tangan dan Handuk serta alat tulis kepada seluruh penyandang Disabilitas Netra yang hadir.

Mengakhiri kata sambutannya CC Ina L Gunawan juga mengucapkan terima kasih kepada Panitia, Para Pejabat Pemerintah RI, Fellow Lions dan semua pihak yang membantu terselenggarakannya acara mulia ini dengan berjalan baik dan lancar. 

Harapan CC Ina semoga dengan adanya acara ini, kita semua makin peka terhadap penyandang disabilitas netra. 
Karena seorang penyandang disabilitas netra adalah manusia dengan tantangan istimewa. Meski memiliki keterbatasan penglihatan, namun apabila dimotivasi dan difasilitasi, mereka tetap bisa berkarya.
Dukungan keluarga, dukungan masyarakat dapat diwujudkan dengan menciptakan lingkungan yang bersahabat dengan mereka, sehingga memudahkan mereka menjalani kehidupan sehari-hari.

Bapak Basuki Tjahaja Purnama mengungkapkan bahwa Jakarta membutuhkan orang-orang yang mempunyai hati untuk perhatikan sesama. Hal tersebut disampaikan Bapak  Basuki dalam acara peringatan White Cane Day atau Hari Tongkat Putih Sedunia bagi para tunanetra di Balai Agung, Rabu (15/10) 

 "Yang paling dibutuhkan di Jakarta adalah orang-orang punya hati yang mau memperhatikan orang lain.
 Dan  yakin Jakarta jadi kota besar kalau orang banyak mau jadi pemerhati." 

Dan beliau juga mengakui jika fasilitas umum di DKI, salah satunya adalah trotoar dan bus Transjakarta belum ramah terhadap tunanetra. Padahal kedua fasilitas bagi masyarakat tersebut sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) tersendiri.
"Kenyataannya Transjakarta masih belum memiliki fasilitas yang memadai bagi penyandang disabilitas netra.
Tahun depan PT Transjakarta semoga bisa melakukan dengan baik. Di tengah kota kami akan memberi bus tingkat gratis yang deck-nya rendah. Ini bisa cukup membantu," ujarnya.

Beliau juga menyampaikan, mereka yang diberikan kekurangan tidak bisa melihat ini merupakan orang-orang yang bukan untuk dikasihani, tetapi harus diberi semangat oleh warga lainnya untuk membantu mereka.
Apalagi, saat bertolak ke Korea Selatan untuk Asian Games beberapa waktu lalu juga dirinya sempat mencoba merasakan bagaimana rasanya berjalan tanpa memiliki penglihatan. 
Di sana, di sebuah taman, kedua matanya ditutup lalu  berjalan dituntun oleh seekor anjing yang sudah dilatih.

"Saya ingin semua dari kita harus bisa merasakan bagaimana rasanya jadi tunanetra," kata Bapak Basuki menutup kata sambutannya.

Foto kegiatan  dapat dilihat di video youtube: 

   http://youtu.be/UOjbXIrgIJs

Demikian info kegiatan White Cane Day di Balaikota Jakarta pada tanggal 15 Oktober 2014 yang lalu.



Elizabeth Halim
Sekretaris MD307.